senangjalan.com – setengah hari menelusuri kota strassbourg

Posted on Posted in Kota, Kota Eropa

2016 – satu hari menelusuri kota strassbourg france

Kali ini team senangjalan.com berkesempatan untuk mengunjungi dua kota Perancis yang berdekatan dengan Jerman dan Swiss. Dua kota tersebut bernama Strassbourg dan Colmar. Dengan menggunakan bus malam Flixbus rute Eindhoven – Strassbourg transit di kota Dusseldorf Jerman, team senangjalan.com akan mengawali perjalanan pagi dengan menelusuri kota Strassbourg yang merupakan kota nya Parlemen Eropa. Bus Flixbus yang akan kami tumpangi seharusnya sudah boarding pada jam 19.00 namun karena traffic jam, bus nya baru nongol jam 21.00, sungguh waktu delay yang lumayan lama. Padahal sesuai rencana semula, jeda waktu transit 3 jam itu, akan kami manfaatkan untuk sightseeing kota Dusseldorf dengan berjalan kaki. Oleh karena keterlambatan tersebut, kami terpaksa membatalkan itinerary yang sudah sempat tersusun saat masih di Indonesia. Perjalanan bus malam ini sangat spesial karena dalam satu malam kami melintasi 3 negara sekaligus yaitu Belanda, France dan Jerman sehingga bus-nya layak mendapat sebutan AKAN, antar kota antar negara bukan AKAP lagi seperti di Indonesia…ha…ha..ha :D.

Bus malam Flixbus sampai di kota Strassbourg jam 06.00 pagi, suasana kota masih sepi dan bersih di pagi itu, kendaraan umum seperti bus dan tram sudah lalu lalang membawa penumpang yang sebagian besar pekerja kantoran atau instansi pemerintah. Perkenalan dengan kota Strassbourg ini sebenarnya tanpa disengaja, karena tujuan utama kami ingin mengunjungi kota Colmar yang miniaturnya menjadi destinasi wisata negeri jiran bernama Colmar Tropicale. Namun untuk miniaturnya ini sampai tulisan ini naik upload belum sempat terkunjungi. Dari halte kedatangan bis Flixbus di daerah Parc de l’Etoile, yang merupakan sebuah taman kota di sebelah selatan Kota Strassbourg, kami melanjutkan perjalanan ke arah Utara dengan berjalan kaki sambil menyeret koper-koper mungil menuju ke Stasiun Kereta Gare de Strassbourg. Di sepanjang perjalanan, udara pagi dingin nan segar dan bangunan-bangunan klasik khas Eropa masih tertata dan terawat rapi menjadi paduan serasi untuk menyemangati perjalanan pagi kami kali ini.

Pot-pot bunga warna warni banyak di gantung di balkon-balkon rumah dan pagar-pagar jembatan menjadikan kota ini cantik dan menawan. Tujuan terakhir kami adalah Stasiun Kereta Gare de Strassbourg untuk menjajal kereta cepat negara Eiffel dengan nama keren TGV untuk menuju kota berikutnya Colmar. Salah satu destinasi wisata utama kota Strassbourg adalah kawasan La Petite France, sebuah kawasan perkampungan di tengah kota yang masih dijaga keasliannya sebagai sebuah kawasan village di Prancis tempo dulu. Baik bangunan, kanal-kanal maupun jalan setapak nya masih authentic dan terawat dengan baik. Exterior bangunannya bercat warna warni dan bercorak garis-garis asimetris dengan pot bunga warna-warni menghiasi balkon-balkon di setiap bangunan sehingga meninggalkan kesan eksotis dan elegan. Saya berkesempatan mengitari sisi demi sisi La Petite France di pagi yang masih sepi dari lalu lalang warga atau wisatawan, sambil mengingat cerita-cerita fairy tale yang sering muncul dengan setting lokasi yang mirip dengan area ini. Terutama cerita-cerita keluaran Disney dan Hans Christian Andersen. Serasa balik lagi ke masa kecil saat cerita-cerita tersebut nongol di layar kaca hitam putih di rumah.

Di kawasan perkampungan klasik ini, selain hunian warga, bangunan-bangunan klasik ini juga dimanfaatkan untuk perkantoran, penginapan dan kafe-kafe resto yang bertebaran di sekeliling kawasan. Jalan-jalan di kawasan ini berupa gang-gang sempit, dengan lebar cukup untuk pejalan kaki beralaskan tatanan batu alam menjadikan kesan klasik kian kentara. Di bagian depan La Petite France dibangun jembatan iconic nan cantik bernama Ponts Couverts. Di seberang Ponts Couverts terdapat bangunan yang didirikan pada abad ke 17 bernama Barrage Vauban atau Dam Vauban, yang semula difungsikan untuk sistem pertahanan kota Strassbourg dari serangan musuh. Bila musuh datang menyerang kota Strassbourg, Dam Vauban ini akan dibuka untuk membanjiri kawasan selatan kota Strassbourg untuk menghambat datangnya musuh. Namun di masa kini, bangunan ini difungsikan sebagai destinasi wisata dan monumen sejarah sejak tahun 1971.

Pada tahun 1965-1966, Barrage Vauban telah dilengkapi dengan viewing panaromic terrace di atapnya, sehingga memungkinkan semua pengunjung untuk melihat landscape jembatan Ponts Couvets dan La Petite France nan iconic dari atap ini. Biaya untuk masuk ke Barrage Vauban gratis dan buka dari jam 09.00 – 19.30. Puas menikmati La Petite France, langkah kaki kami bergeser kembali menuju tujuan berikutnya Stasiun Kereta Api Gare de Strassbourg sambil mencari tempat sarapan dan beristirahat sejenak setelah berjalan selama 3 jam di pagi nan dingin. Kebetulan di seberang stasiun terdapat gerai waralaba Paman Sam yang sudah terkenal di seantero dunia, kami pun masuk untuk mencari tempat duduk dan memesan makanan untuk sarapan. Suasana masih sepi dan beberapa pramusaji sedang bersiap untuk melayani pengunjung yang datang. Bagian kedai kopi dan makanan kecil sudah buka dari pagi, namun untuk menu utama seperti ayam, kentang goreng dan lain-lain baru buka jam 10.00 pagi. Kami pesan dua gelas hot chocolate dan beberapa butir kue macaron sebagai teman duduk sambil menunggu waktu  pemesanan ayam 30 menit kemudian. Hampir sebagian besar waralaba ini di seantero Eropa sudah menyediakan beberapa mesin touch screen untuk membantu mempercepat pemesanan dan bisa dibayarkan dengan kartu kredit.

Mesin touch screen ini terbukti memangkas antrian saat jam sibuk makan siang dan makan malam. Hasil print out pesanan ini akan ada nomor antrian yang nantinya muncul di display monitor meja pramusaji saat pesanan sudah siap untuk diambil oleh para pemesan nya. Semoga dalam waktu dekat di Indonesia juga akan menerapkan ini sehingga tidak akan terlihat lagi antrian yang mengular saat akan memesan pada jam-jam sibuk ini. Selesai sarapan, dengan berbekal tiket kereta TGV yang sudah kami pesan via online saat di Indonesia, kami melakukan boarding di Stasiun Gare de Strassbourg. Stasiun ini bila kita pandang dari Place de la Gare terlihat sebagai stasiun yang modern karena bangunan klasik utama nya terlindung atau terbungkus oleh facades kaca tembus pandang berbentuk dome menyelimuti seluruh area bangunan utama. Facades tembus pandang berbentuk dome ini ditopang oleh susunan tiang-tiang besi berwarna perak yang menambahkan kesan elegan dan futuristik dari sisi exterior, namun saat masuk ke gedung utama kesan klasik bangunan ini kembali mengemuka karena pemerintah kota sama sekali tidak mengubah tampilan bangunan utama sejak pertama kali stasiun ini didirikan. Dari stasiun ini kami akan menaiki kereta TGV selama 30 menit menuju ke Kota Colmar untuk berkunjung ke La Petite Venise dan bermalam di hotel yang telah kita pesan sebelum nya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *