senangjalan.com – koperku tertinggal di Macau

Posted on Posted in Dag Dig Dug

2016 – koperku tertinggal di macau

Beberapa hari nginep di Hongkong, saatnya beranjak pulang Bogor melalui Bandara Macau. Kami sengaja transit di Macau untuk menyempatkan diri melihat landmark The Ruins of St Paul dan mencicipi ikudapan Portuguese egg tart yang legend, santapan favorite turis bila berkunjung ke Macau. Portuguese egg tart yang masih hangat ini banyak dijumpai di toko-toko kecil sekitar Ruins of St Paul. Setelah dua misi itu done, kami kembali ke Dermaga Ferry Macau untuk menunggu bis yang akan membawa kami ke Bandara Internasional Macau. Sebagai informasi, sopir bis di Macau sebagian besar tidak berbahasa Inggris dan terkenal senang buru-buru. Meski bis telah tiba di halte yang seharusnya berhenti namun bila tidak melihat lambaian tangan dari penumpang maka sopir akan melanjutkan perjalanan. Kami baru sadar setelah tiga kali bis tujuan bandara dengan santainya melengos meninggalkan kami yang melongo saja tanpa reaksi. Sedangkan jam terus berdetak mendekat ke batas waktu check in pesawat kami. Panik tentu saja!.

Begitu bis bandara datang lagi, sontak kami berempat melambaikan tangan dan berlari cepat ke arah pintu masuk di bagian depan. Bis pun langsung melaju tancap gas menuju halte berikutnya. Perasaan lega langsung berganti kepanikan saat kami sadar satu-satu koper besar tertinggal di halte saat kami kompak berlari tadi.

Saya pun minta kepada sopir untuk berhenti di halte berikutnya dalam bahasa Inggris namun dia sepertinya tidak mengerti apa yang coba saya sampaikan. Saya ulang beberapa kali sampai saya yakin bahwa sopir itu memahami permintaan saya. Namun begitu tiba di halte bis itu tidak berhenti tetap saja berjalan kami makin panik. Sempat terpikir untuk meninggalkan koper tersebut langsung tancap ke bandara, namun karena semua souvenir tersimpan cantik di koper tersebut, kami terpaksa turun di halte berikutnya yang ternyata cukup jauh dari halte tempat koper kami tertinggal.

Hadeeh, mana batas waktu check in makin dekat dan tak tahu lagi naik apa nanti. Kami nekat saja tetap turun. Setelah nyebrang kami berdiri sambil menunggu taksi kosong, yang membuat makin stress waktu itu masuk periode rush hour waktu pegawai pulang kantor. Alhamdulillah ada taksi mendekat, di dalam taksi kami terus berdoa agar koper yang tak bertuan selama lebih dari 30 menit itu tetap duduk manis dan tak ada orang iseng yang sengaja membawanya.

Begitu hampir sampai di halte Macau Ferry Terminal masih banyak orang berkerumun, dari jendela taksi mata saya menyapu satu per satu koper yang tergeletak di samping para calon penumpang sambil berharap koper ku masih ada di situ. Alhamdulillah koperku masih di tempatnya. Kamipun dengan sopan minta sopir taxi untuk menunggu sebentar sementara saya ambil koper dan balik ke arah Bandara untuk mengejar waktu check in. Namun, rupanya aturan taksi di Macau tidak mengijinkan hal itu. Kami tetap harus turun dan nunggu taksi lain yang akan membawa kami ke bandara. Baiklah pak!. Kami antri taksi lagi dengan sabar. Kami sampai di Bandara Internasional Macau last minute waktu check in menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Berdasarkan pengalaman ketinggalan koper di Macau ini, kami beli empat koper kecil ukuran 18 inch, sehingga tiap orang punya tanggung jawab untuk membawa koper masing-masing.

Hongkong-Macau, Januari 2016.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *