KotaKota Eropa

senangjalan.com – 2 hari 1 malam mendebarkan di kota praha

Stasiun kereta api Praha Hlavni Nadrazzi

Kota Praha ibukota negara Ceko merupakan salah satu kota di Eropa Timur yang menjadi bucket list untuk dikunjungi para traveler seantero dunia. Pada musim panas tahun 2014, saat berwisata ke beberapa kota di Eropa, kami menyempatkan diri untuk menginap semalam di kota nan cantik ini. Karena singkatnya waktu, hanya beberapa destinasi wisata utama yang berhasil terkunjungi seperti Charles Bridge, Kawasan Old Town Square, Prague Astronomical Clock, Saint Wenceslas Square, dan area stasiun kereta api utama kota Praha Hlavni Nadrazi. Kami menempuh kereta api yang cukup panjang dari kota pedesaan nan dingin di Zermatt Swiss pada jam 12.00 siang menuju ke kota Praha. Dengan dua kali transit di kota Milan saat malam hari untuk mencari makan malam di stasiun kereta Milan dan kota Wina pada pagi harinya sebelum menuju destinasi akhir di kota Praha. Mulanya kami berencana untuk memanfaatkan 4-5 jam transit di kota Wina Austria untuk berkeliling sambil berjalan kaki di sekitar stasiun untuk melihat kecantikan kota Wina namun karena pada pagi itu turun hujan terpaksa kami urungkan niat dan cukup mencari sarapan, sambil menunggu kereta yang akan membawa kami ke kota Praha tiba.

Charles bridge

Kami menginap di Hotel Merkur tak jauh dari stasiun metro Florenc, yang melayani metro line B (jalur kuning) dan C (jalur merah), sehingga sangat strategis sebagai basecamp menjelajah kota Praha. Line metro di kota Praha sangat simple karena hanya terdiri dari 3 line yaitu line A warna hijau, line B warna kuning dan line C warna merah. Setelah berhasil check in, kami pun mengayunkan langkah menuju destinasi pertama kami yaitu jembatan Charles Bridge dengan moda kereta metro dari stasiun Florenc menggunakan line C (merah) menuju ke stasiun Muzeum untuk transit dan pindah ke metro line A jalur hijau dan turun di stasiun Staromestska. Dari stasiun ini kami berjalan kaki sekira 10 menit untuk sampai di Charles Bridge. Jembatan Charles Bridge yang membelah sungai Vitava ini merupakan hasil rancangan Peter Paler dan dibangun dari tahun 1357 sampai dengan 1402. Jembatan ini merupakan tipikal jembatan Eropa klasik yang memberikan celah berupa setengah lingkaran di dasar jembatan untuk dapat dilewati kapal yang merupakan alat transportasi utama saat jembatan ini dibangun.

Salah satu view Charles Bridge

Ada sedikitnya 9 celah setengah lingkaran pada jembatan sepanjang 500 meter an nan megah ini. Di kanan kiri jembatan ada beberapa patung dan ornamen yang makin menjadikan jembatan ini memiliki aura klasik dan unik. Banyak sekali seniman lukis, patung memperagakan keahlian nya di sepanjang jembatan ini sehingga menjadikan suasana sore yang cerah ini kian semarak. Aliran air sungai yang bersih dengan kapal wisata yang lalu lalang berpadu dengan kafe-kafe tempat nongkrong di pinggir sungai Vitava yang homy ini semakin menjadikan pemandangan sekitar jembatan sedap dipandang. Kami cukup lama menikmati udara cerah dengan pemandangan menakjubkan khas Eropa timur ini sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan Old Town. Dengan kembali berjalan kaki santai, kami menyusuri jalan rata berbatu rapi dengan berhias gedung-gedung klasik di kanan kirinya untuk menuju kawasan Old Town Square. Perasaan makin senang karena banyak juga teman traveler dari berbagai negara yang melakukan hal yang sama.

Prague Astronomical Clock

Salah satu hal menarik dan patut dicontoh dari kota-kota di Eropa adalah kegigihan pemerintah setempat untuk tetap memelihara dan merestorasi bangunan-bangunan, statue-statue dan ornamen kuno yang merupakan identitas penting kota agar tetap sama seperti kondisi aslinya, dan menjadikannya andalan untuk menarik wisatawan mancanegara. Hal ini juga yang kami rasakan selama berada di kota Praha. Di kawasan Old town Square ini dapat dijumpai beberapa bangunan dan statue yang menarik seperti bangunan The Church of Our Lady, Jan Hus Monument, Prague Astronomical Clock, dan kafe-kafe tempat nongkrong yang menempati bangunan lawas nan indah seperti Hard Rock Cafe, Coyote Prague, Pubs U Kata, Brasiliero at Town Hall, Starbuck dan lain-lain. Kalau kebetulan sobat senangjalan.com punya waktu berlebih saat berada di kawasan ini, cobalah untuk duduk bersantai di bangku teras salah satu kafe ini sambil menyeruput kopi atau coklat hangat ditemani kudapan khas kota Praha. Sembari menyaksikan lalu lalang para pejalan kaki dalam balutan suasana Old Town Square yang menawan akan menjadikan hari sobat senangjalan.com mempesona dan menjadi kenangan indah yang tak akan terlupakan.

Old town square

Di salah satu pojok Old Town Square jamak dijumpai flea market, di mana warga sekitar biasa menjajakan buah, sayur mayur, cemilan dan kerajinan khas kota Praha dalam gerobak atau lapak tenda kaki lima. Kami sempat mampir ke sini dan membeli beberapa macam kue untuk teman jalan dan kerajinan tangan untuk sekedar buah tangan saat kami pulang ke kampung halaman. Kendala bahasa tidak jadi penghalang karena dengan bahasa isyarat dan kalkulator proses jual beli bisa jalan dengan sendiri nya. Setelah puas menikmati kawasan Old Town Square kota Praha, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri jalan-jalan berbatu nan rata dan rapi menuju hotel Merkur tempat kami akan beristirahat melepas lelah.  Selama perjalanan di kanan kiri hampir di dominasi bangunan lawas yang masih terawat rapi hingga saat ini.

Setelah beristirahat semalam dan sahur karena kebetulan saat itu bulan Ramadhan, kami akan mengunjungi satu destinasi wisata lagi sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Berlin dengan kereta api. Adalah kastil Prague atau Prague Castle yang merupakan salah satu kastil utama kota Praha yang akan menjadi destinasi akhir kami, Kastil megah yang dibangun pada abad ke 10 ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari stasiun metro Hradzanska meenggunakan jalur kereta metro A warna hijau dari stasiun metro Muzeum. Setelah keluar stasiun metro ini, kami pun berjalan santai sambil menikmati udara cerah dan suasana sekitar yang asri karena banyaknya pepohonan dan taman sepanjang perjalanan. Namun setelah berjalan selama satu jam lamanya kami belum juga menemukan tempat wisata yang kami cari, mengingat keterbatasan waktu kami memutuskan kembali ke stasiun metro Hradzanka menuju hotel tempat menginap untuk melakukan check out. Stasiun metro di negara-negara Eropa Timur umumnya terbenam sangat dalam di perut bumi karena selain difungsikan sebagai peron stasiun metro, tempat ini juga difungsikan sebagai bunker pertahanan bila suatu saat terjadi peperangan.

Peristiwa mendebarkan terjadi waktu kami akan naik ke salah satu kereta metro yang sudah dalam posisi tunggu saat kami sampai. Kami berempat segera menuju pintu masuk gerbong kereta namun putri bungsuku-lah yang berhasil pertama kali masuk gerbong kereta sedangkan saya, istri dan putri sulungku masih berada di bibir luar pintu kereta. 🙁 Sebelum saya berhasil masuk, mendadak pintu gerbong tertutup secara otomatis, meskipun saya berusaha membuka paksa namun pintu itu tetap tak bergeming. Lampu hijau di ujung peron pun telah menyala tanda kereta sudah siap berangkat, dengan cemas saya berlari menuju ruang pengawas atau pengatur kereta metro yang ada di ujung depan peron. Saat sedang berlari saya pun mendengar ada seorang pemuda berteriak ke petugas pengawas kereta untuk menghentikan kereta karena putri saya terpisah dan sudah berada di gerbong ke kereta metro yang akan berangkat. Pemuda itu berteriak dalam bahasa Ceska yang saya sendiri kurang mengerti artinya. Dan yang membuat suasana lebih dramatis lagi petugas wanita paruh baya tersebut kurang memahami bahasa Inggris, sehingga perlu bantuan pemuda yang barusan berteriak untuk memahami situasi yang tengah saya hadapi. Namun tetap saja dia tidak bisa menghentikan kereta. Hanya menjanjikan bahwa dia akan menghubungi polisi atau petugas stasiun metro berikutnya untuk membantu menemukan putri bungsu saya.

Iconic-nya gedung di Praha

Perasaan dan pikiran was-was campur aduk membayangkan  putri bungsuku yang baru berusia 10 tahun terpisah dari keluarga di negara orang lain dan tinggal beberapa jam lagi harus meninggalkan kota Praha sesuai rencana perjalanan yang tersusun saat masih di kampung halaman. 🙁 Kami menunggu kereta metro selanjutnya datang dengan terus berdoa. Waktu jeda 4-5 menit terasa begitu panjang dan tak berujung. Istri ku cerita kalau tadi ada seorang ibu dan pria penumpang yang berdiri di belakang putri bungsu ku memberikan kode atau bahasa isyarat bahwa mereka berdua akan bersama anak saya dan akan menolong untuk menurunkan putriku di stasiun metro berikutnya, “nanti jemput saja di sana”  begitu kira-kira isyarat yang ditangkap istri saya saat kereta beranjak meninggalkan peron tempat istri saya berdiri. Aku sudah agak tenang, namun putri sulungku mulai menangis, mungkin merasa kehilangan adik tercinta semata wayang nya. Begitu kereta metro datang kami pun bergegas masuk dan berdiri di dekat jendela kaca agar bisa mengamati suasana luar kereta, sambil terus memanjatkan doa, dan berharap kereta metro segera berhenti di stasiun berikutnya. Saat bunyi pengumuman kereta akan tiba di stasiun berikutnya terdengar, sepasang mata ku seolah tak mau lepas menyapu setiap jengkal sudut peron dari ujung ke ujung sambil berharap melihat penampakan putri bungsu ku di sana. Kami pun merasa lega dan berucap alhamdulillah segala puji syukur hanya milik Allah semata, setelah melihat putri ku di pinggir peron bersama ibu dan pria yang tadi memberikan isyarat kepada istri saya. Saat kereta metro berhenti kami bertiga segera berhambur menjemput putri bungsu ku sembari mengucapkan terima kasih kepada ibu dan pria muda yang telah membantu menemani putri bungsuku saat terpisah dari kami.

Ada banyak pesan positif yang bisa kami petik dari peristiwa mendebarkan selama kami mengunjungi kota Praha ini. Semoga sobat senangjalan.com yang kebetulan membaca kisah pengalaman kami ini bisa mengambil manfaat dari apa yang telah terjadi agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Berkaca dari pengalaman tersebut, SATU sejak saat itu kami tidak pernah lagi naik ke kereta metro yang sedang menunggu di peron untuk menaik turunkan penumpang sebelum diberangkatkan, DUA apabila ada anggota keluarga terpisah di kereta metro maka kami sepakat untuk turun dan menunggu di stasiun metro beikutnya, TIGA selalu untuk memegang erat anak Anda pada saat akan memasuki kereta metro dan EMPAT usahakan orang tua atau orang dewasa yang menyertai anak-anak untuk masuk ke gerbong terlebih dahulu. Pesan penting lain dari kejadian ini adalah bahwa kebaikan itu tidak mengenal ras, warna kulit, agama dan negara. Para penolong kami dalam peristiwa ini sama sekali tidak mengenal kami sebelumnya, mereka juga memiliki warna kulit yang berbeda dengan kami yang sawo matang sedangkan ibu penolong berkulit putih dan pemuda penolong satu nya berkulit hitam, agama dan negara mereka pun jelas berbeda dengan kami, namun mereka dengan ikhlas menawarkan bantuan dan pertolongan kepada kami tanpa diminta. Dari situlah kami yakin bahwa “kebaikan itu ada tanpa mengenal ras, warna kulit, agama, negara dan masih bisa temukan di mana pun kita berada di dunia ini” karena kebaikan itu merupakan anugrah Allah seru sekalian alam kepada manusia. 🙂

Praha, di musim panas tahun 2014

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *